Perjuangan umat dalam menegakkan Islam dengan ilmu, dakwah, jihad, jamaah, keadilan, kesejahteraan, tegaknya hukum, mulkiyah, rububiyah, uluhiyah, asma wa sifat,Marifah, Thaghut, Negara Islam, Tauhid, demokrasi, hukum islam, doa, shalat

Jumat, November 13

Ma'rifatul Rasul

I. MUQODIMAH

“Dia Telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). Dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, Karena kedengkian di antara mereka. kalau tidaklah Karena sesuatu ketetapan yang Telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, Pastilah mereka Telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang Kitab itu.
( QS. Asy-Syuro (42) : 13-14 )
Tugas para Rasul Allah adalah Iqamatudin (QS. 42 : 13) sampai terealisir (idhar QS. 61: 9) dan dien itu hanya untuk Allah saja ( QS. 8 : 39). Tentu saja dengan diawali pemakluman kepada masyarakat, dirinya adalah Rasul Allah. Agar manusia mentauhidkan-Nya, karena Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi, tidak ada Ilah selain Dia dan Dia-lah pembuat kehidupan (lihat QS. 7 : 158 )



II. MAKNA RASUL
A. Rasul dari akar kata : ............
Artinya mengurai atau melepas (rambut). Penggunaan kata ini ada dalam Al-Qur’an, yaitu QS. 12 : 63
“Maka tatkala mereka Telah kembali kepada ayah mereka (Ya’qub) mereka berkata: “Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan Sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya”. (QS. Yusuf (12) : 63)
Jawaban Nabi Ya’kub a.s
“Ya’qub berkata:”Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh”. tatkala mereka memberikan janji mereka, Maka Ya’qub berkata: “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)”. (QS. Yusuf (12) : 66)

“Wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang Haq. Sesungguhnya Aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, Maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku”. (QS. Al-A’raf (7) : 105
B. Dari akar kata : ......................
Artinya mengutus atau mengirim pesuruh. Penggunaan kata dalam arti diatas terdapat
dalam Qur’an surat 35:39 ; 27 : 35; 35 :1; 61 :9
“Dan Allah, dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, Maka kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu. (QS. Faathir (35) : 9)
“Dan Sesungguhnya Aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.(QS. An-Naml (27) : 35)
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan. (QS. Faathir (35) : 1)
“Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar ......(QS. Ash-Shaf(61) :9)
Kata rasul pada ayat-ayat diatas adalah setiap pihak yang diutus membawa sesuatu (amanat) yang sangat penting, dari manusia atau dari Allah SWT. Adapun sesuatu itu bisa berupa angin yang dikirim untuk menggerakkan awan (QS. 35 : 9), bisa juga seorang kurir yang mengirim surat atau hadiah (QS. 27:35), Malaikat yang menurunkan wahyu (QS. 35:1), atau seorang Rasulullah (utusan Allah) yang bertugas menyampaikan risalah da’wah (QS. 6 : 9)
Rasul yang kita maksud dalam pembahansan ini adalah “seorang laki-laki pilihan Allah (QS. 22 : 75; 12 : 109) dengan membawa risalah untuk membebaskan manusia, dari perbudakan antar sesama manusia, agar manusia hanya mengabdi kepada Allah saja.

III. ASAL STRATA SOSIAL PARA RASUL
Rasul yang diutus berasal dari berbagai strata sosial. Mulai dari masyarakat yang umum (tidak mengenal kitab, ada pula dari golongan masyarakat biasa, dan ada pulayang dari keturunan raja)
“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?”(QS. Al-Isra’(17) : 94)
A. Ummi Rasul : yang diutus tidak mengenal dan tidak menulis kitab-kitab Allah
“(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka[574]. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. Al-A’raaf (17) : 157)
“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.”(QS. Al-Ankabut(29) : 48)
B. Rasul sebagai manusia biasa, hidup layaknya sebagaimana kebanyakan manusia.
“Dan kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya. Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui”.(QS. Saba’(34) : 34-36)
C. Turunan Raja
“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.(QS. An-Naml (27) : 16)

IV. KONDISI MASYARAKAT SEBELUM DAN SESUDAH DIUTUSNYA RASUL
A. Masyarakat yang Menyimpang dan Ummi (buta) dari wahyu
Kaum ahli kitab telah menyimpang dari ajaran yang telah dibawa oleh Rasul Allah dalam Al-Kitab (Taurat dan Injil) dan merubahnya. Di samping itu sebagian besar masyarakat sam sekali tidak mengenal wahyu.
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:” kamipun Telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang Telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; Tidakkah kamu mengerti?” Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka Hanya menduga-duga. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.
B. Para Penguasa dan Rakyat yang senantiasa Berbuat Zalim
“ Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.(QS. An-Nisa’(4) : 75)
“Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah kami binasakan, dan kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya).(QS. Al-Anbiya’(21) : 11)
Ingat bagaimana kedzaliman fir’aun yang membunuh setiap bayi laki-laki, juga musyrikin mekkah yang membunuh setiap bayi perempuan. Rakyat kecil jadi obyek pemerasan.
C. Masyrakat yang Sesat (dhalal)
“ Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(QS. Ali-Imran (3) : 164)
“Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim Berkata kepada bapaknya, Aazar[489], “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”(QS. Al-An’am (6) : 74)
Masyarakat yang sesat adalah masyarakat yang tidak menjadikan petunjuk (hudan). Termasuk mengenal Allah pun tanpa petunjuk. Mereka percaya kepada Allah namun aturan hidup dan persembahan bukan dari dan untuk Allah.

V. TUJUAN DIUTUSNYA RASUL-RASUL ALLAH
Tujuan diutusnya Rasul adalah agar menjadi Rahmat bagi semesta alam, firman Allah :
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(QS. Al-Anbiya(21) : 107)
Rahmat itu hanya dari Allah saja, tidak ada yang sanggup menahan curahan rahmat atau memaksa mendapatkannya (lihat QS. 35 : 2). Rahmat terbesar bagi manusia adalah Al-Qur’an. (QS. 27 : 75-76). Berarti seorang Rasul yang diutus hanya menjadi rahmat bagi suatu masyarakat , bila Kalamullah itu dijadikan pedoman dalam menata masyarakat itu.
Untuk mendapatkan rahmat Allah, berupa kemenangan didunia dan keselamatan diakherat dengan mendapatkan Jannah-Nya hendaklah mengikuti pola perjuangan Rasul. (lihat QS. 9 : 20-22)
Setelah dakwah dibeberkan oleh para Rasul, praktek dan kebenaran didhohirkan bahwa Allah harus di-Tauhidkan, hukum islam itu adil dan bijaksana, maka dipengadilan Allah nanti tidak ada alasan, tidak tahu, tidak faham, dan tak ada yang memperingatkan.

VI. TUGAS-TUGAS RASULULLAH
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.(QS. Az-Zumar (39) : 32-33)
A. Mengidharkan/Iqomatudienullah di Atas Dien-Dien yang Lain
“Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS. At-Taubah(9) : 33)
Dien itu bisa wujud nyata, bila ia dilaksanakan sepenuhnya (kaffah) oleh masyarakat. Artinya Dien itu tegak berdiri mengatur dan menguasainya. Maka wajib hukumnya menegakkan Islam (Iqamatuddin) bagi seluruh Rasul dan pengikutnya:
“ Dia Telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”
B. Menyelenggarakan Khilafah dan Menegakkan Keadilan
Rasul yang diutus oleh Allah, sekaligus menjalankan tugas sebagai Khalifatullah. Sebagaimana Daud a.s dinyatakan oleh Allah senagai Khalifah, firman Allah :
“ Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad (38) :26)
Dengan tegak/idharnya Islam, yang diatur oleh khilafah Islam atau kepemimpinan dalam pemerintahan islam, dari sinilah lahir masyarakat Islam. Yaitu masyarakat yang memiliki identitas dan ideologi yang jelas. Contohnya masyarakat Madinah al Munawarah. Di dalamnya ada pemimpin yang adil dan dicintai, tegaknya hukum islam sebagai wahyu dari Allah pencipta manusia, masyarakat dinamis dan ta’at hukum. Idealnya masyarakat yang dibangun dengan sisitem yang datang dari Allah.
Atau negeri Saba’ dibawah kerajaan Nabi Sulaiman menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghaffur
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”.(QS. Saba’(34):15)

VII. FUNGSI DAN PERANAN RASUL-RASUL ALLAH
“Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab (33): 45-46)
A. Mengoperasionalkan Wahyu
Wahyu yang Allah turunkan kepada Rasul, untuk dilaksanakan. Bagaimana prakteknya yang sesuai dengan kehendak Allah, lihat bagaimana Rasulullah SAW melaksanakannya. Maka apa yang diperintahkan Rasul terimalah dan apa yang dilarang tinggalkanlah.
( hal hilang 1 lembar, afwan…)
3. Panglima Perang
Dalam menyampaikan misinya, setiap Rasul selalu mendapat tantangan dari kaumnya. Mulai dari caci maki-an, intimidasi, diusir hingga diperangi. Sementara Rasul harus berjuang dan tidak boleh menyerah atau lari dari tugas.
Berarti bila Rasul diperangi maka tampilah untuk memimpin peperang :
“Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.(QS. Al-Anfal(8) : 65 )
C. Sebagi Da’i dan muballigh
Rasul sebagai Da’i dan Muballigh, menyeru orang untuk bersama-sama hidup dilembaga Allah dan menyampaikan kebenaran itu hanya demi Allah, tidak disertai pemikiran dan perasaan hawa nafsu.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An-Nahl(16):125)
“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[430]. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(QS. Al-Maidah(5):67)
“Maka Karena itu Serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah[1343] sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)".(QS. Asy-Syuro(42) : 15)
Dalam jama’ah muslimin itu Rasul bertindak sebagai:
1. Syahidin (saksi didunia dan akherat)
Tugas para Rasul sebagai syahidin (saksi) pada prakteknya sebagai penanggung jawab, terhadap keislaman para sahabat ( umnat islam). Dibina, diselamatkan, dilindungi, dan diselamatkan dari bahaya diennya dan dunia
“Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al-Baqarah(2) : 143)
2. Mubasysyirin (memberi kabar gembira)
Kabar gembira berupa surga diakherat dan kehidupan yang mulia dimuka bumi, bagi mereka yang beriman dan berjuang bersama Rasul/dalam barisan Rasul. Mereka yang mentauhidkan Allah dan menjadi Ansharullah. Kabar gembira berupa Darussalam.
“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.(QS. Ash-Shaff(61) : 13)
3. Nadhiran (pemberi peringatan)
Peringatan agar tidak menentang perintah Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang ingkar dan menentang aturan/hukum Allah dan perjuangan menegakkan misi Rasul dimuka bumi akan dijebloskan ke dalam neraka. Dan sepanjang hidupnya dalan kehinaan.
“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, Maka berkatalah orang-orang yang zalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul". (kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu Telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa? Dan kamu Telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan Telah nyata bagimu bagaimana kami Telah berbuat terhadap mereka dan Telah kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan".(QS. Ibrahim (14) : 44- 45)
D. Sebagai Uswah Hasanah
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al-Ahzab(33) : 21)
“Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia….(QS. Al-Mumtahanah(60) : 4)
Bagi setiap muslim, Rasulullah adalah figur sentral, panutan dalam segala masalah. Mulai dari bagaimana metode menegakkan islam, ibadah kepada Allah, pemerintahan, bermasyarakat, rumah tangga dan segala ruang hidup kehidupan manusia.

VIII. TEMAN SEJATI (SAHABAT-SAHABAT) RASUL-RASUL ALLAH
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. At-Taubah(9) :16)
A. Mukmin Sejati
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu Kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)[626] di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.(QS. An-Anfaal(8) : 74-75)
B. Ribbiyun
Ribbiyun adalah orang-orang yang memiliki mental yang prima bebas penyakit al wahn, tidak merasa lemah, terus aktif tidak diam berpangku tangan, pantang menyerah.
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[235] dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".(QS. Ali Imran (3) : 146-147)
C. Hizbullah
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462] yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.(QS. Mujadillah (58) : 22)

IX. MUSUH BESAR RASULULLAH
Musuh-musuh Rasul itu adalah:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), Karena rasa kasih sayang; padahal Sesungguhnya mereka Telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu Karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, Karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, Maka Sesungguhnya dia Telah tersesat dari jalan yang lurus.(QS. Mumtahanah (60) : 1)

A. Mujrimin
“Dan seperti itulah, Telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.(QS. Furqon (25) : 31)
Dan demikianalah Kami adakan tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Apabila datang suatu ayat kepada mereka , mereka berkata : “kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yangh telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa , nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allahdan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.
2. Muthrofin (Orang Kaya yang Dzalim, Penetang Al- Haq)
“Dan Demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka" (rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun Aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka kami binasakan mereka Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.(QS. Az-Zuhkruf (43) : 23-25)
Muthrofin dalam istilah kini adlah konglomerat, bekerja sama dengan musuh islam lainnya dalam mendanai segala gerakan anti islam. Termasuk mendanai pengawasan dan penangkapan aktivitas Da’I Islam.
3. Musyrikin (Penganut Ideologi Nasionalis) Yahudi, dan Nashrani
Alasan mengapa orang musyrik tetap menyembah berhala, sekadar “Kami mendapati bapak-bapajk (nenek moyang) kami melakukan yang demikian itu” (QS. 2 : 170 ; 5 : 104), dengan datangya Islam terjadi pro dan kontra di masyarakat , dicap islam mengacaukan ,memecah belah persatuan suku bangsa, maka dimusuhiulah Islam. Paham semacam ini, dewasa ini menjadi paham Nasionalisme.
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”.(QS. Al-Maidah (5) : 2)
Karena mereka memusuhi islam, perlakukan merka sebagai musuh.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS. Al-Baqarah(2) : 120)
4. Munafiqin
Oran gsecara kahiriah menampakkan beriman, hatinya kafir (QS. 63 : 1-3), berpihak pada barisan musyrikin atau ahli kitab (QS. 2 : 14-15; 9 : 107) merek amenyusup diberbagai lapisan (QS. 4 : 18),Inilah msuh yang sesungguhnya dan berbahaya (QS. 3: 4)
5. Syaitan dari Jin dan Manusia
“Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.(QS. Al-An’am(6) : 112)
Syaitan dari golongan jin dan manusia bekerja sama untuk menyesatkan manusia. Sebagaimana yang terjadi pada perang badr (lihat QS. 8 :48)
6. Hizbusyaitan
“Syaitan Telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi.(QS. Al-Mujadillah(58) : 19)

X. POLA PERJUANGAN RASULULLAH
“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; Sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, Maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan Karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang Telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu[1261]. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.(QS. Fathir (35) : 42-43)
A. Berpola Hijrah
“Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang Telah kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, Kalau terjadi demikian, benar-benarlah kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia Ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami. Dan Sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja[863]. (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul kami yang kami utus sebelum kamu[864] dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan kami itu.(QS. Al-Isra’ (17) : 73-77)
Rasulullah bersikap tegas terhadap ajakn kompromi dari pihak pendukung berhalaisme, terdapat garis yang jelas, ancaman pengusiran Beliau adalah hijrah.
Lihat lebih lanjut (QS. 2 : 218; 8 :74 ; 9:20)
B . Radikal
Artinya membongkar kekafiran itu sampai keakar-akarnya, serta bersikap keras (syidda’). Pola ini lebih menitik beratkan perlawanan ideologinya.

“Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, (QS. Al-Mudatsir(74) : 5)
“Musa Berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."(QS. Al-A’raf(7) : 128)
“Dan sungguh Telah kami tulis didalam Zabur[973] sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.(QS. Al-Anbiya’(21) : 105)
Kesimpulan :
1. Rasul adalah laki-laki pilihan Allah yang menjadi utusan-Nya, bertugas untuk menegakkan Dien.
2. Sikap kita sebagai umat islam adalah uswah, mengikuti dan melanjutkan misi Risalah dalam sebuah aspeknya.

Ma'rifatul Rasul Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Al Chaedar

0 komentar: